Senin, 18 Mei 2009

PRESIDEN CERDAS INTELEKTUAL,EMOSIONAL DAN SPRITUAL

PRESIDEN CERDAS:
INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPRITUAL
Oleh : Dr. Darmansyah, ST., M.Pd.
(Dosen Pascasarjana UNP Padang)

Pendahuluan
Kampanye Presiden hanya tinggal beberapa hari lagi. Artinya 9 Juli, hari yang dinanti-nanti itu segera akan tiba. Kita telah mulai disuguhi janji muluk melalui kampanye awal yang menggiurkan. Tetapi program yang ditawarkan ketiga calon, tampaknya tidak jauh berbeda. Tema kampanye yang diusung masih menyanyikan lagu lama, tidak ada yang baru.Akibatnya kita masyarakat awam nonpartisan justru diselimuti kebingungan dalam memilih yang terbaik.
Memilih yang terbaik di antara beberapa alternatif yang hanya BBT (beda-beda tipis) tentu pekerjaan tersulit yang harus dilakukan. Begitu juga halnya dengan pemilihan RI – 1 mendatang. Sulit menentukan pilihan, karena ketiga calon memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Meskipun demikian, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus menjatuhkan pilihan. Seraya berdoa agar perjalanan bangsa ini ke depan jauh lebih baik dari yang sudah-sudah. Salah satu kriteria yang mungkin dapat digunakan dalam memilih presiden mendatang adalah tingkat kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spritual (SQ) calon yang lebih baik dan seimbang.

Kecerdasan Intelektual (IQ)
Menurut Shapiro (1997), indikator kecerdasan intelektual adalah berupa kemampuan verbal maupun nonverbal. Di antaranya kemampuan memecahkan masalah, kemampuan mengingat, wawasan, abstraksi logika, persepsi, kemampuan mengolah informasi, dan keterampilan motorik visual. Meskipun para ilmuan sosial masih berdebat soal ini, namun para profesional sepakat, inilah yang disebut IQ itu.
Kecerdasan intelektual merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang presiden masa depan. Tuntutan zaman yang semakin kompetitif mendorong kita untuk selektif memilih presiden. Kita butuh presiden yang cerdas. Meskipun terlalu banyak persyaratan tentang kecerdasan intelektual yang diperlukan untuk menjadi seorang presiden, tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar-tawar.
Wawasan atau Visi seorang presiden termasuk kecerdasan intelektual yang paling penting. Dengan wawasan dan visi, presiden berada dalam misi dan semangat yang menular dan terasa di tengah rakyatnya. Wawasan memungkinkan seorang presiden tahu ke mana mereka akan pergi dan mampu membujuk rakyat untuk mengikutinya . Ciri-ciri penting dari presiden berwawasan antara lain: (1) sedikit bicara banyak bekerja, (2) mendapatkan kekuatan dari keyakinan batin dan (3) ia akan terus bekerja dan berusaha ketika masalah timbul.
Inilah salah satu kelemahan presiden kita selama ini. Ia berjalan tidak berpedoman “bintang” sehingga tak tahu arah yang pasti . Hampir di semua bidang, kita tidak mendapatkan gambaran jelas tentang visi seorang presiden masa-masa sebelumnya.
Kemampuan memecahkan masalah tentu paling dibutuhkan saat ini. Mulai dari soal keterpurukan ekonomi, politik, keamanan, hukum, sampai pada melambungnya angka pengangguran dan kemiskinan. Kita membutuhkan orang-orang yang mampu mencari solusi berbagai masalah pelik yang sedang dihadapi. Termasuk kemampuannya memilih dan menempatkan orang-orang sebagai pembantu tugasnya. Kita tak pernah berhasil dalam mengatasi berbagai kemelut yang terjadi, karena SDM kita betul-betul lemah dalam berbagai hal. Penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi tanpa ujung, akibat kurangnya kemampuan presiden kita mencari solusi yang tepat.
Integritas, termasuk yang paling penting artinya dalam diri seorang pemimpin. Apalagi di saat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin (baca:presiden) seperti sekarang, integritas sangat diperlukan. Integritas inilah yang telah lama hilang dari pemimpin kita. Kita sudah terlalu lama memendam kerinduan hadirnya pemimpin berintegritas tinggi seperti Hatta, Hamka dan lain-lain. Hilangnya kepercayaan masyarakat kepada presiden disebabkan sering tak sejalannya antara perkataan dan perbuatan. Meskipun kita sulit menentukan pilihan, akan tetapi diantara yang kurang itu, pasti ada yang kurangnya itu sedikit dibanding yang lain. Timbang-timbanglah diantara ketiganya, lalu jatuhkan pilihan Anda.

Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional (EQ) pertama kali dilontarkan tahun 1990 oleh Peter Salovy dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Namun istilah EQ ‘menyeruak’ ke berbagai penjuru dunia setelah terbitnya buku best seller karya Daniel Goleman, “Emotional Intelligence” tahun 1995. Kemudian meluncurlah berbagai jenis buku yang hampir sama untuk bermacam-macam kebutuhan.
Tentang definisi EQ masih banyak yang belum sepakat. Tetapi Salovy dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan-bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan “memantau perasaan dan emosi”, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah dan menggunakan informasi itu untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Kualitas-kualitas EQ ini antara lain; empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Semua kualitas di ataslah yang lebih banyak berperan dalam kehidupan seseorang untuk meraih sukses. Bahkan Daniel Goleman mengatakan bahwa 80% keberhasilan itu ditentukan oleh kecerdasan emosional.
Kualitas kecerdasan emosional inilah yang tak banyak dimiliki pemimpin kita akhir-akhir ini terutama selama kemimpinan mantan presiden Gus Dur dan Mega. Ketika mayoritas bangsa ini di berbagai pelosok sedang menderita kelaparan, kemiskinan dan kebodohan, para pejabat kita termasuk legislatif berusaha mengkorup kekayaan negara dengan berbagai cara, baik halus maupun yang kasat mata.
Kita membutuhkan seorang presiden yang memiliki rasa empati terhadap penderitaan rakyat. Kita memerlukan seorang presiden yang mampu dan mau memahami perasaan rakyat yang masih kelaparan. Kita butuh pemimpin yang mampu mengendalikan amarah, mandiri, dapat menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan situasi apapun. Kita sangat menghargai presiden kita yang mampu memecahkan masalah antarpribadi, memiliki sikap hormat terhadap kawan dan lawan. Kalau Anda jeli tentu pilihan akan jatuh pada capres-cawapres yang cerdas secara emosional. Banyak manfaatnya dalam memimpin 230 juta rakyat Indonesia ke depan.
Kecerdasan Spritual (SQ)
Kecerdasan spritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa. Donah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya “Kecerdasan Spritual” (2001) mengatakan bahwa SQ merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia. SQ adalah kecerdasan yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita secara utuh. SQ merupakan kecerdasan yang berada di bagian diri paling dalam dan ia berhubungan dengan kearifan pikiran sadar. SQ adalah kesadaran yang dapat digunakan untuk mengakui nilai-nilai yang telah ada, sekaligus juga secara kreatif menemukan nilai-nilai baru. Oleh karena itu, ia mendahului bentuk ekspresi agama mana pun yang pernah ada. SQ membuat agama mungkin menjadi semakin perlu, tetapi tidak bergantung pada agama. Mungkin saja pada sebagian orang SQ diungkapkan melalui agama formal tetapi ada orang yang aktif beragama ternyata memiliki SQ rendah.
Selanjutnya dikatakan bahwa SQ memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi. Keadaan negara dan bangsa yang sedang dilanda krisis - sangat rapuh saat ini memerlukan seorang presiden yang mampu mengubah kepahitan hidup ini menjadi kemakmuran yang menguntungkan rakyat banyak. Inilah bentuk kecerdasan yang sangat diperlukan dalam situasi korupsi yang masih belum tuntas,...tas,.. seperti sekarang ini. Lingkungan dan jaringan aparatur negara yang penuh kebohongan, kelicikan, memerlukan seorang pemimpin yang memiliki SQ tinggi untuk tampil mengubah situasi. Untuk yang satu ini, kayaknya kita memiliki pilihan yang pas yang sudah teruji dalam 5 tahun terakhir.
Kita mendambakan presiden yang mempunyai SQ tinggi, karena ia akan mampu membedakan antara hak dan yang bathil. SQ sangat diperlukan untuk mencegah para pemimpin main “hantam kromo” tanpa peduli dengan rakyat yang dipimpinnya. Kecerdasan spritual akan bergulat dengan ikhwal yang baik dan jahat sekaligus bercita-cita mengangkat diri kita dari keterpurukan. SQ sangat diperlukan bagi para elit politik di negeri ini. Kecerdasan yang satu ini memberikan kemampuan kepada manusia untuk menimbang secara rohaniah mana cara yang terpuji dan mana yang bukan. Kecerdasan ini akan menjadi rem untuk memperlambat laju penyakit yang bernama “Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme” di negeri ini. Sekaligus juga SQ menjadi “stir” (pengendali terpenting)
Idealnya, ketiga kecerdasan dasar terebut bekerja sama dan saling mendukung. Otak kita dirancang agar mampu melakukan hal ini. Meskipun demikian, mereka masing-masing (IQ, EQ dan SQ) memiliki wilayah kekuatan tersendiri dan bisa berfungsi secara terpisah. Oleh karena itu ketiga tingkat kecerdasan kita belum tentu sama tinggi atau rendah. Namun bagi seorang presiden, pejabat dan aparatur negara keseimbangan ketiga kecerdasan itu sangatlah penting. Bahkan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi yang seperti gunung es seperti sekarang, memang sangat diutamakan orang-orang yang memiliki kecerdasan spritual tinggi. Semoga Anda tidak salah pilih!

Minggu, 17 Mei 2009



Jika Anda memerlukan informasi tentang cara membuat media presentasi berbasis ICT yang kreatif silakan hubungan saya. email : darmanpasca2008@yahoo.co.id . Anda akan diberikan trik dan teknik mendisain PowerPoint sederhana menjadi Tampilan luar biasa. Ketika tampil menjadi pembicara di suatu seminar,

Jumat, 15 Mei 2009

PENGARUH SISIPAN HUMOR TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN HASIL BELAJAR


Oleh: Darmansyah

Abstract
The main purpose of this research is to find out the effect of humor insertion to the emotional intellegence and the relations to learning outcome of students. Despitefully, this research is also meant to lay open how big the difference of contribution of emotional intellegence to the mathematics learning outcome, in connected to the instructional strategy used. The population of this research are students of SMA and MA in Padang city. The sample amount to 83 students for the experimental group and 83 students for the control group, who were selected using random sampling technique. The data of learning outcome obtained through test and data of emotional intellegence collected by questionnaire using "EI Map". The data were analyzed by the analysis of variance technique, Pearson and Partial and Regression Analysis. The result of data analysis indicates that the learning outcome of mathematics of student who were taught through using insertion of humor are higher than the conventional instructional strategy. The contribution of emotional intellegence to students learning outcome who were taught through instructional strategy using insertion of humor are also higher than those who were taught with conventional instructional strategy. Thereby, instructional strategy using insertion of humor is more effective to improve mathematics learning outcome compared to the conventional instructional strategy.

Kata Kunci: Sisipan Humor, Kecerdasan Emosinal dan Hasil Belajar

Pendahuluan
Keberhasilan pembelajaran pada hakekatnya dapat dilihat dari beberapa indikator. Indikator terpenting yang selalu menjadi ukuran dalam menilai keberhasilan pembelajaran adalah capaian hasil belajar. Hasil belajar siswa selain dijadikan sebagai indikator keberhasilan siswa dalam belajar, juga dijadikan ukuran keberhasilan guru dalam mengajar. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa hasil belajar juga menjadi indikator kualitas proses pembelajaran. Artinya semakin baik haasil belajar yang dicapai siswa, maka semakin baik pula kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru di dalam kelas.
Rendahnya hasil belajar yang diawali kurang berkualitasnya pembelajaran tentunya dipengaruhi banyak faktor terutama beberapa komponen yang ada dalam sistem pembelajaran. Dalam teori pemrosesan informasi, komponen siswa sebagai penerima pesan dan guru yang beperan sebagai sumber penyampai pesan menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran. Namun di antara keduanya, guru dianggap faktor penyebab paling berpengaruh terhadap ketidakberhasilan belajar siswa. Di sinilah pentingnya penguasaan guru terhadap berbagai kompetensi yang diperlukan untuk mendukung keberhasilannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Satu di antara beberapa kompetensi yang kurang dikuasai guru adalah kemampuan merancang dan menerapkan strategi yang tepat dalam pembelajaran. Banyak guru yang kurang mampu mengorkestrasi berbagai potensi dan lingkungannya, sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif. Guru menerapkan strategi pembelajaran yang sering menimbulkan kebosanan dalam belajar, sehingga peserta didik tidak dapat menikmati pembelajaran dengan motivasi tinggi. Padahal menurut Dryden & Vos, (2000:213), semangat belajar muncul ketika suasana begitu menyenangkan dan belajar akan efektif bila siswa dalam keadaan gembira.
Kesenangan belajar sangat erat kaitannya dengan cara ketiga jenis otak memproses informasi yaitu otak reptil, otak mamalia dan otak neo-cortex. Apabila seseorang dalam keadaan bahagia, tenang dan rileks, maka otak neo-cortex dapat aktif dan digunakan untuk berpikir dan merupakan 80% dari otak manusia. Otak reptil bekerja ketika seseorang dalam keadaan tegang, stres, takut, sehingga pikirannya dapat menjadi kosong, tidak mengingat apa-apa yang dipelajari sebelumnya. Karena itu, suasana belajar menyenangkan merupakan upaya yang harus terus-menerus dilakukan oleh guru dalam setiap pembelajaran.
Penelitian Herman Nirwana (2003) mengungkapkan bahwa banyak siswa meninggalkan pelajaran matematika di beberapa SMA di Sumatera Barat sebelum pelajaran selesai. Di antara empat mata pelajaran yang dianalisis (fisika, kimia, bahasa Inggris dan matematika), ternyata mata pelajaran matematika menempati urutan paling banyak sabsen dan siswa yang meninggalkan kelas sebelum pelajaran selesai. Hal ini menurut Herman mengindikasikan bahwa mata pelajaran matematika termasuk salah satu mata pelajaran yang kurang disukai siswa dan membosankan.
Dampak dari kondisi yang tidak menyenangkan itu, dapat dilihat dari NEM rata-rata SMA di Sumatera Barat. Berdasarkan data Diknas Sumbar (2003) ternyata mata pelajaran matematika lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. NEM rata-rata pelajaran matematika SMA di Sumbar 4,50. Angka tersebut paling rendah dibandingkan dengan PPKN (5,54), IPS (5,65), IPA (5,62), Bahasa Indonesia (6,36), Bahasa Inggeris (4,91). Artinya NEM matematika berada di bawah rata-rata mata pelajaran lainnya. NEM pada tahun 2002/2003 sebesar 3,92, berarti turun dari sebelumnya yang menempatkan Sumatera Barat pada peringkat ke 19 di antara 30 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data di atas dapat dinyatakan bahwa rendahnya hasil belajar Matematika antara lain karena pembelajarannya kurang menyenang-kan.
Upaya untuk menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai metode dan menerapkan berbagai strategi. Komunikasi dan interaksi guru dengan peserta didik yang terbuka dan penuh keriangan dapat menciptakan suasana me-nyenangkan dalam belajar. Ling-kungan fisik belajar yang kondusif memungkinkan siswa dapat bereaksi dan berkreasi dengan penuh motivasi. Penataan suasana hati dengan musik pengiring dapat meningkatkan kegairahan belajar.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian disertasi peneliti berupa penerapan strategi pem-belajaran menyenangkan melalui pemanfaatan ”Jeda Strategis” secara optimal dengan sisipan humor. Jeda strategis adalah istirahat sejenak dari kegiatan belajar dan mengisinya dengan kegiatan menyenangkan menggunakan karikatur humor, setelah menjalani aktifitas belajar selama 20-25 menit. Memberikan kegembiraan kepada siswa dengan sisipan humor saat jeda strategis akan dapat membantu siswa secara emosional. Siswa akan dapat mengatasi berbagai hambatan emosional yang sering mengganggu kelancaran belajar seperti kejenuhan, stres dan lain-lain.
Mengikuti pembelajaran dengan suasana menyenangkan akan mengaktifkan otak neo-cortex, sehingga dapat memberikan kemampuan dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran. Suasana menyenangkan dalam pembelajaran juga sekaligus dapat menstimulus otak mamalia (disebut juga otak emosi dan memori) yang dapat memberikan kemampuan kepada siswa untuk mengingat dalam waktu lama dan dapat dipanggil kembali saat informasi diperlukan dalam ujian. Dengan demikian sisipan humor ini akan dapat menciptakan suasana menyenangkan dalam belajar dan pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, melalui penelitian akan diungkapkan pengaruh sisipan humor terhadap kecerdasan emosional dan selanjutkan akan dilihat hubungannya dengan hasil belajar.

Metode
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode quasi eksperimen di SMA Negeri 7 dan MA Negeri 2 Padang yang dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2005/2006, mulai Juli sampai dengan Desember 2005. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah siswa seluruh SMA Negeri yang berjumlah 14 unit sekolah dan 3 unit MA Negeri dalam kota Padang.
Penarikan sampel kelas dilakukan secara acak dengan teknik ”Elementry Survey Sampling. Pengacakan kedua dilakukan untuk memilih 1 kelas yang dijadikan sampel pada kelompok eksperimen dan 1 kelas kelompok kontrol pada kedua sekolah. Setelah dilakukan penarikan sampel kelas, maka untuk SMAN 7 dan MAN 2 Padang terpilih empat kelas dengan jumlah siswa 86 orang.
Instrumen dikembangkan dalam dua bentuk yaitu: (1) instrumen perlakukan (2) instrumen ukur. Instrumen perlakuan dirancang dalam dua model yaitu (1) karikatur humor dan (2) anekdot/cerita singkat humor. Instrumen karikatur humor dibuat dalam bentuk gambar karikatur di atas kertas hvs ukuran A4 kemudian dipindahkan ke transparansi hitam-putih.
Instrumen ukur kecerdasan emosional berbentuk kuesioner yang dikembangkan dari model ”Quetionare EQ Map” oleh Cooper dan Sawaf. EQ Map menurut Cooper dan sawaf (1999:497) merupakan hasil penelitian yang mendalam, andal secara statistik dan teruji secara baku dan memudahkan kita mengeksplorasi kecerdasan emosional. Instrumen ukur hasil belajar berbentuk soal pilihan ganda yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Padang dengan asumsi bahwa persyaratan untuk instrumen ukur hasil belajar, yaitu valid, reliable sudah terpenuhi.
Data kecerdasan emosional dikumpulkan pada awal dan akhir semester serta data hasil belajar diperoleh dengan tes pilihan ganda setelah pembelajaran dilaksanakan pada akhir semester. Teknik analisis data menggunakan uji t untuk melihat perbedaan kecerdasan emosional kelompok eksperimen dan kontrol. Sedangkan untuk melihat hubungannya dengan hasil belajar digunakan teknik korelasi regresi sederhana menggunakan program SPSS for Windows versi 11,00.
Pelaksanaan eksperimen dilaksanakan dengan langkah sebagai berikut:
1. Sebelum melaksanakan eksperimen di dalam kelas, guru mengadakan pertemuan terlebih dahalu dengan para siswa kelas sampel untuk menjelaskan maksud eksperimen.
2. Kegiatan persiapan dilaksanakan untuk menyiapkan alat dan perlengkapan seperti instrumen perlakuan gambar karikatur dan anekdot/cerita singkat humor dalam bentuk transparansi, OHP dan perlengkapan lainnya.
3. Selanjutnya guru memasuki ruang kelas untuk melaksanakan pembelajaran Matematika yang diawali dengan memberikan pengantar secukupnya. Pada kesempatan pertama dilaksanakan eksperimen ini, peneliti ikut serta di dalam kelas dengan menempati posisi di bagian belakang kelas untuk mengamati jalannya eksperimen.
4. Setelah pembelajaran berjalan sekitar 25 menit, guru mengadakan jeda sejenak lalu menyisipkan humor dengan menayangkan transparansi karikatur humor. Penayangan gambar karikatur humor ini diringi dengan komentar secukupnya oleh guru untuk mendukung suasana menyenangkan dan memberikan kesempatan tertawa kepada semua siswa.
5. Bersamaan dengan penayangan gambar karikatur humor, guru juga melakukan pengamatan dan mencatat reaksi siswa apakah tertawa atau tidak melalui lembaran observasi dengan memberikan tanda cek (þ) pada kolom nama siswa.
6. Selesai pemberian sisipan humor selama kurang lebih 3-4 menit, pembelajaran kembali dilanjutkan. Untuk kembali ke pembelajaran, guru juga memberikan pengantar agar siswa dapat masuk siap ke susana pembelajaran secara psikologis.
7. Selanjutnya setelah pembelajaran berjalan sekitar 25 menit, guru kembali menyisipkan humor dengan cara yang sama dengan sesi pertama. Memberi komentar, mengamati dan mencatat reaksi siswa.
8. Guru kembali melanjutkan pembelajaran setelah pemanfaatan jeda strategis dengan sisipan humor sesi kedua selama 3-4 menit selesai dilaksanakan. Sesi ini adalah sesi terakhir sesuai dengan waktu yang tersedia 2 x 45 menit (90 menit pembelajaran).
9. Pada akhir sesi pembelajaran, guru juga kembali menyisipkan humor. Sisipan humor terakhir ini tidak lagi menggunakan gambar transparansi karikatur humor yang ditayangkan menggunakan OHP, melainkan mendialogkan anekdot/cerita singkat antarsiswa. Sebelum siswa mendialogkan anekdot/cerita singkat humor, guru juga memberikan pengantar. Bersamaan dialog antarsiswa tersebut, guru mengamati dan mencatat reaksi siswa pada lembar observasi.
10. Bagian akhir dari eksperimen pada minggu pertama ini, guru melakukan dialog dengan siswa dan menanyakan pendapat siswa tentang strategi menyisipkan humor dalam pembelajaran. Siswa dimintakan pendapat apakah mereka menyenangi pembelajaran, apakah karikatur dan anekdot/cerita singkat yang digunakan lucu atau tidak. Semua pendapat siswa dicatat oleh guru terutama menyangkut keunggulan dan kelemahan yang ada untuk disempurnakan pada pertemuan berikutnya.
11. Setelah sesi pembelajaran pertama selesai, peneliti mendiskusikan dengan guru tentang pelaksanaan eksperimen dan hasil pengamatan selama peneliti berada di dalam kelas. Diskusi ini terutama difokuskan pada beberapa hal yang dianggap masih perlu disempurnakan.
12. Pelaksanaan eksperimen pada pertemuan pertama yang diuraikan di atas merupakan teknis pelaksanaan dasar yang akan dijalankan secara berulang pada pertemuan berikutnya di kedua sekolah sampel. Kehadiran peneliti di dalam kelas hanya beberapa kali pertemuan, terutama dalam rangka pengecekan apakah pelaksanaan eksperimen dilaksanakan sesuai dengan desain yang telah direncanakan.
13. Pada akhir eksperimen secara keseluruhan, guru melakukan pengambilan data kecerdasan emosional dan hasil belajar siswa serta mengisi angket tentang pelaksanaan eksperimen. Eksperimen dianggap selesai setelah semua data-data telah terkumpul dan siap diolah secara statistik.

Hasil Penelitian
Sebelum data diolah, terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis dalam bentuk uji normalitas dan uji homogenitas. Uji Normalitas dengan program SPSS for Windows 11,0 menggunakan teknik uji Kolmogorov-Smirnov pada α = 0,05 dan homogenitas data dengan menggunakan uji levene statistic. Seluruh data telah memenuhi uji persyaratan analisis normalitas dan homogen.
Hasil analisis terhadap skor kecerdasan emosional pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat digambarkan seperti Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Perbedaan Skor Kecerdasaran Emosional Siswa
Perlakuan
Kecerdasan Emosional
thitung
ttabel
Ket
Sebelum Perlakuan
Setelah Perlakuan
Kelompok Kontrol
161,73
162,75
0,574
1,9886
Tidak Signifikan
Kelompok Eksperimen
162,89
172,80
6,164
1,9886
Signifikan

Beradasarkan hasil analisis terhadap skor kecerdasan emosional siswa, terungkap bahwa terdapat perbedaan skor kecerdasan emosional antara siswa yang diajar dengan sisipan humor dan tanpa menggunakan sisipan humor. Skor rata-rata kecerdasan emosional sebelum perlakuan untuk kelompok eksperimen 161,73 dan kontrol adalah 162,89. Tidak terdapat perbedaan skor antara keduanya. Selanjutnya untuk kondisi setelah perlakuan skor rata-rata kecerdasan emosional kelompok eksperimen adalah 172,80 dan skor rata-rata kecerdasan emosional untuk kelompok kontrol adalah 162,74.
Setelah dilakukan uji t dengan menggunakan Program SPSS for Windows 11,00 diperoleh thitung = 6,164. Sedangkan ttabel didapatkan angka sebesar 1,9886. Dari angka tersebut dapat diartikan bahwa kedua kelompok memiliki perbedaan rata-rata yang signifikan (6,164 > 1,9886.
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa kecerdasan emosional kedua kelompok sebelum perlakuan adalah sama. Setelah eksperimen, terjadi peningkatan skor kecerdasan emosional pada kelompok eksperimen secara signifikan. Oleh karena yang membedakan antara kedua kelompok hanya berupa perlakuan dalam strategi pembelajaran yaitu menggunakan sisipan humor, maka perbedaan skor yang terjadi dapat diduga akibat perlakuan itu sendiri. Dugaan tersebut diperkuat lagi dengan hasil analisis bahwa sebelum eksperimen dilaksanakan skor kecerdasan emosional awal tidak bebeda dan instrumen yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional sebelum dan sesudah perlakuan adalah sama.
Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan sisipan humor memiliki kemampuan untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengujian signifikansi perbedaan skor kecerdasan emosional antara kedua kelompok dengan uji t seperti yang telah diungkapkan di atas.
Selanjutnya dapat diuangkapkan korelasi dan besarnya kontribusi kecerdasan emosional terhadap hasil belajar Matematika siswa. Pengujian hipotesis kedua menggunaan analisis korelasi regresi sederhana dengan program SPSS for Windows 11,00. Hasil analsisnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :







Tabel 2. Koefisien Korelasi dan Determinasi Kecerdasan Emosional dengan Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Perlakuan
Kecerdasan Emosional

p
Keterangan
r2.y
r2
Strategi Pembelajaran dengan Sisipan Humor
0,217
0,047
0,044
Signifikan
Strategi Pembelajaran Konvensional
0,099
0,000
0,364
Tidak Signifikan


Pembahasan
Hasil perhitungan pada Tabel 2 di atas, memperlihatkan bahwa koefisien korelasi kecerdasan emosional (r2.y) dan hasil belajar Matematika sebesar 0,217 dengan signifikansi = 0,044. Angka signifikansi lebih kecil dari a 0,05 (p < 0,05), dengan demikian terdapat korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional dan hasil belajar Matematika siswa yang diajar melalui strategi pembelajaran menggunakan sisipan humor dengan koefisien determinasi sebesar 0,047. (kontribusinya sebesar 4,70% terhadap hasil belajar Matematika).
Sedangkan hasil perhitungan koefisien korelasi kecerdasan emosional (r2.y) kelompok kontrol dengan hasil belajar Matematika memperoleh angka sebesar 0,099 dengan signifikansi = 0,364, lebih besar dari a 0,05 (p > 0,05). Dengan demikian tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar Matematika siswa yang diajar melalui strategi pembelajaran konvensional.
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi kecerdasan emosional kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini berarti bahwa

Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran dengan menggunakan sisipan humor memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kecerdasan emosional. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari perbedaan kecerdasan emosional antara kelompok eksperimen kelompok kontrol yang cukup signifikan. Kecerdasan emosional siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran dengan sisipan humor lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran konvensional.
Kontribusi kecerdasan emosional terhadap hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran dengan sisipan humor lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kecerdasan emsional emosional memberikan kontribusi yang cukup berarti terhadap hasil belajar.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran dengan sisipan humor lebih efektif meningkatkan kecerdasan emosional dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut.
1. Penelitian ini dilaksanakan dengan populasi siswa SMA dan MA di Kota Padang yang diduga memiliki karakteristik tertentu, yang mungkin berbeda dengan karakteristik SMA dan MA lainnya, baik di Sumatera Barat apalagi di daerah lainnya. Oleh karena itu, generalisasi hasil penelitian ini harus dilakukan secara hati-hati. Lebih jauh, untuk melihat kecenderungan hasil penelitian yang lebih luas perlu dilakukan penelitian lanjutan pada populasi yang lebih besar dan pada sekolah-sekolah yang memiliki karakteristik berbeda.
2. Penelitian ini tidak mempelajari efek psikologis dari penggunaan sisipan humor dan cerita singkat/anekdot humor dalam pembelajaran. Oleh karena itu disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan, sehingga dapat diungkapkan sejauh mana efek psikologis tersebut dapat mempengaruhi motivasi belajar yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar.
3. Ada satu aspek yang belum tersentuh dalam penggunaan instrumen penelitian ini yaitu kurang optimalnya fungsi afirmatif. Artinya dengan menggunakan instrumen karikatur humor dan cerita singkat/anekdot humor belum banyak menciptakan gambar dan kalimat afirmasi, sehingga gambar belum dapat berfungsi sebagai cantolan untuk mengingat informasi. Sehubungan dengan itu pada penelitian lanjutan, disarankan untuk lebih banyak gambar dan kalimat afirmasi, sehingga siswa lebih mudah menggunakan memori jangka panjang karena adanya cantolan untuk meningkatkan daya mengingat.


Daftar Pustaka

Berk, R.A. 1998. “Student Rating of 10 Strategies for Using Humor in College Teaching.
“Journal of Excellece in College Teaching, 7, 71-92. http://www.tomveatch.com/ else/humor/summary.html diakses 5 Januari 2004.
Bryant, J., Comisky, P.W., and Crane, J.S. 1980. “Relationship Between College Teachers’ Use of Humor in Classroom and Student’ Evaluations of Their Teacher” . Journal of educational Psycology, 72, 511-519. www.amstat.org/publications/jse/v10n3 /bryant.html diakses 5 Desember 2003.
DePorter, Bobbi.,& Hernacki,Mike. 1999. Quantum Learning. Terjemahan Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.
DePorter, Bobbi.,Reardon Mark.,Singer-Nouri, Sarah.1999. Quantum Teaching. Terjemahan Ary Nilandari. Bandung: Kaifa.
Dryden, Gordon dan Vos, Jeannette. 2000. Revolusi Cara Belajar. Jakarta : Penerbit Kaifa.
Edwards, C.M.,and Gibboney, E.R. 1992. ”Humour in the College Classroom”. ERIC: Document ED346535.
Flowers,J. 2001. “The Value of Humour in Technology Education” Technology Teacher, 60, 10-13. (http://www.tomveatch.com/else/humor/summary.html) diakses 20-9- 2002.
Friedmen, H., Hersyey, Friedmen, W., Linda, and Amoo, Taiwo. 2002. “Using Humor in the Introductory Statistics Course”. City Univerisity of New York Journal of Statistics Education,10(3),1-13. 1- 13. www.amstat.org/ publications/jse/v10n3/friedman.html diakses 5 Desember 2002.
Gardner, Howard.1985. Frames of Mind: The Theory of Multiple Inteligences. New York: Basic Book.
Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligences. New York: Bantam Books.
Herman Nirwana .2003. “Hubungan Tingkat Aspirasi dan Persepsi tentang Belajar dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Menengah Umum yang Berlatar Belakang Budaya Minangkabau dan Batak”. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Korobkin, D. (1988), “Humor in the Classroom: Considerations and Strategies,” Journal of Excellece in College Teaching, 36, 154-158. http://www.tomveatch.com/ else/humor/summary.html diakses 5 Januari 2004.
Looman, David & Kolberg, Karen. 1993. The Laughing Classroom. Tiburon,CA: HJ Kramer.
Shapiro, E. Lawrence.1997. Mengajarkan “Emotional Inteligent” pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sheinowitz, Miri.1996. Humor and Education. (http://mop.ort.il/ortmine/e-publish/ep9_1011.htm) diakses 20 September 2002.